Senin, 14 September 2015

Mereka Yang Disebut Perempuan

        Mereka, mereka yang yang lembut, yang lemah katanya, dan juga yang bertulang rapuh. terkadang menjadi alasan mengapa ia selalu berada dibelakang kaum adam. Terkadang mereka yang kuat hanya mampu menahan keluh kesah didalam hatinya dan berharap suatu saat kesahnya akan berubah bahagia, bahkan tak sedikit mereka yang katanya lemah meneteskan air mata karena sungguh tak bisa lagi mulutnya berbicara.
          Banyak kasus yang terjadi diantara perempuan-perempuan yang sedikit kurang beruntung, dibatasi cita-citanya, impiannya, bahkan terkadang ide brilian di benak nya hanya sebatas ide tanpa adanya realisasi. mungkin mereka takut, atau pasrah dengan anggapan "Wanita cukup bekerja dirumah", sepertinya paham feminisme terlalu mengakar sehingga menjadi sistem nilai didalam kehidupan masyarakat dan akhirnya membeku dan mengkristal menjadi sistem sosial yang berlaku menjadi pedoman hidup, yang “dibakukan” ke dalam norma sosial, bahkan seringkali norma sosial tentang feminisme dijustifikasi dan dilegitimasi melalui norma hukum (hukum positif). Terkadang begitu miris, ketika mendengarkan kata-kata bahwa "Perempuan hanya sebagai pelengkap derita" ,jika ia sudah berumah tangga bukankah derita tersebut tidak akan ada jika ia berdiri sebagai isteri dan dirangkul suaminya sebagai kekuatan besar untuk menuntaskan kata-kata yang mereka sebut derita ?

        Walaupun terkadang sudah sepenuhnya mereka yang disebut perempuan menjalani kewajibannya sebagi seorang wanita, namun masih ada saja seorang suami dari mereka yang tidak sedikitpun punya penghormatan terhadap isteri mereka, kekerasan rumah tangga pun terjadi, penyiksaan, perdagangan perempuan. Jadi bagimanakah seharusnya kami yang kalian sebut perempuan lakukan? menjadi keras agar tidak diinjak? terkadang lembut disalah artikan, dan untuk keras kami tak bisa menjalani nya lebih lama, karena ibarat air yang dibekukan pada akhirnya pun akan kembali mencair menjadi air, begitu pula perempuan akan tetap kembali sebagi kodrat nya yang lembut dan lebih banyak menggunakan perasaan dibandingkan logika.

 Tidak jarang wanita menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Keberadaan kekasih atau suami yang harusnya melindungi nampaknya saat ini tidak semua dimiliki wanita. Beberapa wanita harus mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya bahkan sampai meninggal dunia ketika mereka memiliki suami yang kasar. Seperti dilansir pada metro.co.uk, seorang wanita 38 tahun harus kehilangan nyawanya setelah sang suami membunuhnya.
Wanita malang ini bernama Tahira Ahmed. Ia harus kehilangan nyawanya setelah sang suami yang bernama Naveed Ahmed pria berusia 41 tahun memenggal leher wanita tersebut. Peristiwa ini terjadi di rumah mereka di Northolt, London.
Penyerangan dan pembunuhan brutal yang dilakukan Naveed berawal saat ia kehilangan pekerjaannya sebagai manajer sebuah supermaket. Namun selain alasan tersebut, Naveed merasa menyesal telah menikahi seorang wanita yang mengalami cacat fisik.


    Kaum laki-laki seharusnya pandai mengartikan gerak-gerik wanita, karena sesungguhnya mereka "wanita" memiliki kecenderungan lebih personal daripada pria. Wanita memiliki hasrat dan perasaan yang kuat terhadap orang, sehingga lebih menikmati dalam membangun hubungan. Sedangkan pria lebih berorientasi kepada pikiran praktis, kesimpulan yang logis, dan penaklukan. Selain harus saling mengerti mereka pula harusnya memiliki keyakinan yang sama, yakni kepercayaan diantara mereka dan rasa takutnya mereka pada sang pencipta. Ketika mereka yakin bahwa bahagia akan datang walau sakit dahulu yang harus dipikul maka semua nya akan terasa ringan. Usaha, doa, juga kasih sayang diantara mereka akan membuat hidup mereka lebih sempurna. Kita akan melihat lagi si tulang rapuh menangis, terpukul, berdarah, bahkan hilang nyawa. 
Bukankah sangat menyedihkan, ketika mereka yang biasa disebut perempuan telah bontang banting mengerahkan seluruh kekuatannya demi menjalani kewajiban seorang perempuan, memasak, merapikan rumah, mengurus anak, bahkan sampai hal terkecil menyiapkan segelas air bagi suaminya pun ia lakukan, tapi pada kenyataannya banyak yang tidak menyadari itu, kekerasan tetap terjadi, perselingkuhan pun sangat marak dan gencar terjadi dikalangan masyarakat. Sungguh meneyedihkan, bagi kita yang masih remaja haruslah berfikir luas, bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi pada diri dan keluarga kita "Nauzubillah himinzalik..............."


Refrensi:
Nusantara,Pazel.2011.Per-Empu-An.https://pazelnusantara.wordpress.com/tag/makna-dan-hakikat-perempuan/. Diakses pada 14 September 2015

Kpanlagi.net.2015.Gara-Gara Stres PHK dan Istri Sakit, Suami Bunuh Sang                               Istri.http://www.vemale.com/ragam/78115-gara-gara-stres-phk-dan-istri-sakit-suami-bunuh-sang-istri.html. Diakses pada 15 September 2015